Dinamika Emosional dan Kepekaan Rasa dalam Konsumsi Cokelat Bebas Gula: Tantangan Pengembangan Produk Pangan Inovatif

Oleh: Kavadya Syska, S.P., M.Si. (Dosen Bidang Teknologi Pangan – Food Technologist, Universitas Nahdlatul Ulama)

Kepekaan rasa memainkan peran penting dalam memengaruhi pilihan konsumen, terutama dalam produk makanan yang kompleks seperti cokelat. Penelitian ini memberikan wawasan menarik tentang bagaimana status pengecap konsumen memengaruhi persepsi dan emosi mereka terhadap cokelat bebas gula, menggunakan metodologi Centang-Semua-Yang-Berlaku (CATA). Dengan memanfaatkan n-propiltiourasil (PROP) sebagai alat untuk mengukur kepekaan terhadap rasa pahit, penelitian ini menyoroti adanya hubungan signifikan antara status pengecap dan respons emosional konsumen terhadap dua varian cokelat bebas gula: cokelat hitam dan cokelat susu.

Sebagai seorang Dosen Teknologi Pangan, penting untuk menyadari bahwa sensitivitas pengecap (non-pencicip, pencicip sedang, dan supertaster) tidak hanya berdampak pada bagaimana konsumen menikmati rasa cokelat, tetapi juga emosi yang dihasilkan. Non-pencicip, yang lebih tidak sensitif terhadap rasa pahit, cenderung lebih menikmati cokelat susu bebas gula dan mengaitkannya dengan emosi positif. Sebaliknya, supertaster yang sangat sensitif terhadap rasa pahit, menunjukkan respons emosional negatif terhadap cokelat hitam bebas gula, dengan perasaan tidak puas dan jijik.

Penelitian ini mengungkapkan peran penting dari pengembangan leksikon emosional dalam memformulasikan produk cokelat bebas gula yang dapat memenuhi kebutuhan berbagai segmen konsumen berdasarkan status pengecap mereka. Hal ini merupakan tantangan besar bagi industri pangan, karena harus mampu menciptakan produk yang tidak hanya lezat di lidah, tetapi juga memuaskan secara emosional. Sebagai contoh, cokelat hitam bebas gula yang lebih pahit mungkin lebih cocok untuk pencicip sedang, sementara cokelat susu bebas gula yang lebih manis dapat lebih menarik bagi non-pencicip.

Namun, penting juga untuk mempertimbangkan implikasi lebih luas dari respons emosional ini. Emosi seperti rasa bersalah, yang lebih sering dialami oleh non-pencicip, dan emosi negatif seperti jijik pada supertaster, menunjukkan bahwa aspek psikologis dan persepsi sensorik perlu dikelola dengan hati-hati dalam pengembangan produk bebas gula. Dalam hal ini, produsen perlu mempertimbangkan strategi komunikasi dan pengemasan yang tepat untuk mengurangi kemungkinan respons emosional negatif terhadap produk.

Penelitian ini juga menawarkan wawasan berharga tentang segmentasi konsumen berdasarkan status pengecap, yang dapat dimanfaatkan oleh industri untuk menciptakan produk yang lebih dipersonalisasi. Pengembangan produk berbasis kepekaan rasa ini dapat menjadi strategi diferensiasi yang kuat dalam industri makanan, terutama di era di mana personalisasi dan pengalaman konsumen menjadi fokus utama.

Kesimpulannya, pemahaman mendalam tentang hubungan antara kepekaan rasa dan emosi konsumen sangat penting dalam menciptakan produk cokelat bebas gula yang sukses. Pengembangan leksikon emosional yang tepat untuk setiap segmen pengecap adalah kunci untuk meningkatkan penerimaan konsumen terhadap produk inovatif ini. Bagi industri pangan, penelitian ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan aspek sensorik dan emosional dalam formulasi produk untuk mencapai kepuasan yang lebih holistik di kalangan konsumen.

Written by 

Teknologia managed by CV Teknologia (Teknologia Group) is a publisher of books and scientific journals with both national and international reach.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *