Review Oleh: Ropiudin, S.TP., M.Si. (Dosen Bidang Teknik Sistem Termal dan Energi Terbarukan, Universitas Jenderal Soedirman)
Biogas merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang berpotensi besar untuk memenuhi kebutuhan energi yang ramah lingkungan. Biogas ini dihasilkan melalui proses anaerobik dari limbah organik cair, yang melibatkan fermentasi bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen. Namun, biogas mentah yang dihasilkan dari proses ini tidak dapat langsung digunakan karena mengandung berbagai gas pencemar, seperti hidrogen sulfida (H2S), karbon dioksida (CO2), dan uap air, yang dapat menurunkan kualitas biogas dan berdampak negatif terhadap lingkungan jika tidak diolah lebih lanjut.
Sebagai seorang pakar teknologi pangan, saya melihat bahwa pengolahan biogas menjadi bahan bakar berkualitas tinggi dan ramah lingkungan sangat penting, terutama jika kita mempertimbangkan aplikasi biogas dalam industri pengolahan pangan yang memerlukan energi bersih dan stabil. Gas H2S yang terdapat dalam biogas mentah, meskipun dalam jumlah kecil, sangat korosif dan dapat merusak peralatan jika tidak dihilangkan. Selain itu, gas CO2 yang terdapat dalam biogas mentah dapat mengurangi nilai kalor biogas dan, jika dibakar, berpotensi menghasilkan emisi yang berbahaya bagi lingkungan, seperti gas rumah kaca dan hujan asam.
Dalam konteks teknologi pangan, kualitas energi yang digunakan dalam proses produksi sangat penting untuk memastikan bahwa proses berlangsung dengan efisien dan hasil akhirnya aman untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, pemurnian biogas untuk mengurangi kandungan H2S, CO2, dan uap air menjadi langkah yang krusial. Pemurnian ini tidak hanya meningkatkan nilai kalor dari biogas tetapi juga memastikan bahwa emisi dari pembakaran biogas tersebut tidak merugikan lingkungan, sebuah aspek yang semakin diperhatikan dalam industri pangan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Desain filter biogas yang dijelaskan dalam narasi ini menggunakan metode pencelupan biogas ke dalam air untuk menghilangkan gas H2S dan CO2, serta menyaring kelembapan biogas menggunakan silica gel. Pendekatan ini cukup sederhana namun efektif untuk meningkatkan kualitas biogas. Dengan cara ini, kandungan H2S dapat ditekan hingga di bawah 100-200 ppm dan CO2 di bawah 50%, sesuai dengan standar yang diizinkan. Selain itu, pengurangan kandungan uap air di bawah 0,02% (200 ppm) atau sekitar 20 mg/m³ juga akan meningkatkan nilai kalor dari biogas yang dihasilkan.
Dalam industri pangan, biogas yang berkualitas tinggi dan ramah lingkungan dapat digunakan sebagai sumber energi yang efisien untuk berbagai proses produksi, seperti pengeringan, pemanasan, dan pengolahan makanan. Penggunaan biogas yang sudah dimurnikan tidak hanya mengurangi biaya operasional, karena lebih efisien dalam pembakaran, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan, yang menjadi nilai tambah bagi produk akhir.
Sebagai kesimpulan, proses purifikasi biogas seperti yang diuraikan dalam narasi ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa energi yang digunakan dalam proses produksi pangan berkualitas tinggi dan ramah lingkungan. Teknologi ini tidak hanya relevan bagi industri pengolahan pangan tetapi juga dapat diadopsi secara luas oleh industri lain yang membutuhkan sumber energi terbarukan dan bersih. Dukungan terhadap pengembangan dan penerapan teknologi purifikasi biogas ini harus menjadi bagian dari upaya kita menuju produksi pangan yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
