Review Oleh: Kavadya Syska, S.P., M.Si. (Dosen Bidang Teknologi Pangan – Food Technologist, Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap
Pengembangan film kemasan yang dapat dimakan dari serat makanan jeruk bali adalah inovasi penting yang muncul sebagai respons terhadap masalah lingkungan akibat penggunaan plastik konvensional. Dengan meningkatnya kekhawatiran global terkait limbah plastik yang merusak lingkungan, penelitian ini menawarkan alternatif berkelanjutan dan ramah lingkungan yang berbasis pada bahan alami. Serat makanan yang diekstraksi dari ampas kulit jeruk bali (Grapefruit Soluble Dietary Fiber atau GSDF) digunakan sebagai bahan dasar, dengan nanoselulosa (GNCC) ditambahkan sebagai pengisi untuk meningkatkan sifat fungsional film tersebut.
Penelitian ini menggambarkan potensi besar dari limbah pengolahan jeruk bali sebagai sumber serat makanan berkualitas tinggi, yang sebelumnya dianggap tidak berguna. Dalam pendekatan ini, GSDF berperan sebagai matriks utama yang dapat diolah menjadi film kemasan yang dapat dimakan. Dengan menggunakan nanoselulosa (GNCC) sebagai pengisi, film ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam berbagai sifat fisik dan mekanisnya, seperti kekuatan tarik, stabilitas termal, dan kristalinitas.
Salah satu hasil paling menonjol dari penelitian ini adalah peningkatan kinerja film kemasan dengan penambahan 1% berat GNCC, yang mencetak skor kinerja keseluruhan 0,764. Angka ini menandakan bahwa film yang dikembangkan memiliki sifat yang kompetitif dibandingkan dengan kemasan plastik konvensional. Film ini juga menunjukkan peningkatan suhu pirolisis maksimum, dari 226,36°C menjadi 227,10°C, serta peningkatan suhu leleh (Tm) sebesar 5,54°C. Peningkatan kristalinitas sebesar 2,95% menegaskan bahwa film ini memiliki struktur yang lebih teratur dan stabil secara termal, yang memungkinkan penggunaannya dalam berbagai aplikasi pengemasan makanan.
Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa larutan film ini menunjukkan karakteristik non-Newtonian, yang berarti bahwa viskositasnya berubah sesuai dengan gaya yang diterapkan. Sifat ini sangat penting dalam konteks pengemasan makanan, karena menunjukkan kemampuan film untuk mempertahankan kekuatannya di bawah berbagai kondisi stres mekanis atau lingkungan. Dengan karakteristik seperti padatan, film ini menawarkan stabilitas fisik yang diharapkan dari bahan kemasan yang ideal.
Dari perspektif teknologi pangan, pengembangan film kemasan yang dapat dimakan dari serat jeruk bali memberikan dua keuntungan besar: solusi terhadap limbah makanan dan peningkatan keberlanjutan. Ampas kulit jeruk bali, yang biasanya dibuang sebagai limbah, dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi dalam bentuk kemasan makanan yang dapat dimakan. Selain mengurangi ketergantungan pada plastik, film ini juga menawarkan manfaat tambahan sebagai penghalang terhadap kelembapan dan oksigen, yang dapat membantu memperpanjang umur simpan produk makanan.
Pemanfaatan nanoselulosa sebagai pengisi juga membuka peluang baru dalam penelitian tentang nanoteknologi dalam bahan pangan. Nanoselulosa, dengan ukuran partikel yang sangat kecil, memiliki kemampuan luar biasa untuk meningkatkan kekuatan mekanis dan stabilitas termal film tanpa mengorbankan fleksibilitas atau sifat lainnya. Aplikasi GNCC dalam penelitian ini membuktikan bahwa inovasi berbasis nano dapat membawa perubahan signifikan dalam industri pengemasan makanan, yang terus mencari solusi yang lebih baik, lebih aman, dan lebih ramah lingkungan.
Secara keseluruhan, penelitian ini membuka jalan bagi pengembangan produk kemasan yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga fungsional. Film yang dapat dimakan dari serat jeruk bali ini tidak hanya mengatasi masalah lingkungan terkait limbah plastik, tetapi juga memanfaatkan sumber daya yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dengan baik. Dari sudut pandang industri pangan, ini adalah terobosan penting yang menunjukkan bahwa limbah pertanian dan bahan alami dapat diubah menjadi produk berteknologi tinggi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Inovasi ini memberikan harapan bahwa di masa depan, kemasan makanan yang kita gunakan dapat lebih mendukung upaya global untuk mengurangi limbah dan menjaga keberlanjutan planet ini.
